Buat Apa Kita Hidup?
05 January 2024
Hidup
hanya sekali, lalu mati. Apakah kita akan dikenang sebagai orang baik, atau
ternyata orang mengenang kita sebagai sosok yang buruk? Tak sedikit diantara
kita yang menjalani kehidupan dengan santai saja, tanpa mengetahui untuk apa
Allah memberi kita hidup.
Karena
tidak memahami tujuan hidup, maka kita membiarkan hidup dikendalikan oleh
keinginan-keinginan kita. Mengidentikkan diri dengan keinginan. Karena kita menuhankan
keinginan, maka semakin kesini, bukan kebahagiaan yang kita raih, melainkan
seperti melintas dari satu derita ke derita lain. Keluar dari kegelapan, lalu masuk
ke ruang kegelapan yang lebih pekat.
Kalau
binatang, bisa dimaklumi. Binatang hidup, lalu mati. Tak ada ruang pertanggungjawaban
atas segala perbuatan yang dilakukan. Binatang terbebas dari segala tuntutan. Tak
salah jika binatang terus bergerak memenuhi satu keinginan ke keinginan yang
lain. Hidupnya berhenti di dunia. Tidak mereguk indah atau pedihnya kehidupan
akhirat. Surga dan neraka tidak menampung binatang, kecuali binatang yang telah
ditetapkan sebagai penghuni surga.
Tentu,
pada hakikatnya, manusia berbeda dengan binatang. Manusia adalah makhluk yang
memiliki tujuan, juga pencari makna hidup yang sejati. Ketika kita telah
menemukan tujuan dan makna sejati, kita akan dibanjiri kebahagiaan tak terkira.
Demi mengetahui tujuan hidup, tentu kita harus merujuk kalam dari Zat yang
menciptakan manusia. Dialah yang Maha Mengetahui, untuk apa manusia diciptakan.
Manusia
diciptakan untuk menyembah Allah. Ayat yang menegaskan ini sudah sangat terang terbabar
dalam Al-Qur’an. Ketika manusia hadir secara sungguh-sungguh sebagai penyembah
Allah, maka dia telah meraih tujuan Allah menciptakannya. Karena ketika tulus
beribadah, insya Allah kebahagiaan akan selalu terserap ke dalam hati. Tentu
beribadah tidak hanya dipahami sebagai gerakan fisik, tapi juga perlu disertai
dengan kesadaran sebagai hamba. Lantas, bagaimana agar ibadah yang kita jalani
bisa membuahkan kebahagiaan di hati?
Pertama,
zikrullah. Pepohonan hidup, binatang juga hidup, manusia pun hidup. Pohon
merasakan panas dan dingin, basah dan kering. Sementara binatang bukan hanya
merasakan basah-kering, halus-kasar, pahit-manis, tapi ia juga merasakan sedih
dan gembira. Sementara manusia, selain merasakan apa yang bisa dirasakan oleh
binatang, manusia juga memiliki rasa yang identik. Yakni damai. Selagi kita belum
merasakan kedamaian, sesungguhnya kita belum benar-benar hidup sebagai manusia,
masih menetap di manusia yang berjiwa binatang -bergembira ketika mendapat
nikmat dan bersedih ketika diterpa musibah.
Kita
membiarkan hidup dikendalikan oleh realitas yang bertebaran di luar. Lantas,
bagaimana agar kita sanggup mereguk damai -sebuah esensi rasa yang terpendam
dalam diri? Kita hanya mengingat Allah. Dikala kenyataan menerpa, janganlah
berhenti pada kenyataan, tapi ingatlah siapa yang menciptakan kenyataan.
Mengingat kenyataan membuat kita bisa tertarik dalam keadaan gembira dan sedih,
atau senang dan susah.
Akan
tetapi, ketika tertuju pada Yang Maha Meluncurkan kenyataan -Allah Swt, maka
semua kenyataan bukan hanya menghasilkan kebahagiaan, tapi juga menyusupkan kedamaian,
yakni sebuah rasa yang tak bisa digambarkan. Ketika mendapat nikmat, ingatlah Allah
yang penuh kasih sayang, maka terbit rasa syukur yang mendalam. Syukur, tentu
saja membuahkan rasa damai. Karena dalam syukur, kita mengingat Allah. Dikala
kita terpapar musibah, lagi-lagi kita mengingat Allah dengan sabar. Karena
sabar merupakan ekspresi ingat pada Allah, maka kesabaran juga menuangkan
kedamaian ke dalam hati.
Allah
Maha Damai, mengajak hamba-Nya menuju hidup yang berlimpah kedamaian. Meraih
hidup di atas hidup. Allah berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 24 :
“Wahai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), apabila
dia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu! Ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya dan sesungguhnya
kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan”.
Hati
baru merasakan hidup ketika terjalin konektivitas dengan Allah Swt lewat zikir.
Dari sini, kita memahami bahwa perumpamaan orang yang berzikir dan orang yang
tidak berzikir adalah bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.
Jadi,
jika menghendaki kehidupan di atas hidup, maka hendaknya kita selalu berzikir
kepada Allah. Menyadari kehadiran Allah. Ketika hati kita selalu diisi
zikrullah, jiwa kita akan selalu hidup dan dilumeri rasa damai. Sebaliknya, jika
hati tidak mengingat Allah, berarti kita telah membiarkan diri terperangkap
dalam kesempitan. Adakah orang yang bisa mereguk kedamaian dalam kesempitan?
Tentu tidak ada. Orang yang terkurung di ruang yang gelap, meski ruang itu
luas, tetap saja merasa sempit. Menyemburkan ketakutan.
Kedamaian
hanya diperoleh ketika kita selalu berdekatan dengan Yang Maha Damai, dengan
cara berzikir. Dan tentu merasa diingat Allah selalu. Jika kamu mengingat
Allah, maka Allah mengingatmu. Bahkan sejatinya tanda bahwa Allah ingat pada
Anda adalah Anda jadi ingat pada Allah. Dan mengingat Allah adalah perkara yang
sangat besar.
Jika
seseorang mengiringi hidupnya dengan zikrullah, maka dia akan merasakan surga
sebelum surga, karena hidupnya seperti dituntun dari satu kedamaian ke
kedamaian berikutnya.
Kedua,
bersyukur. Bersyukur adalah masa ketika sudah berbuah. Bahwa kebahagiaan bukan
hanya dirasakan sendiri, tapi juga berdampak, berimbas, dan menular pada orang
lain. Dia benar-benar hadir sebagai khalifah yang bisa mengekspansi
kebahagiaan. Dikala orang bersyukur, dia tidak hanya merasakan kedamaian, tapi
juga didatangi perasaan puas. Ada kelegaan batin yang tak bisa digambarkan.
Bayangkan,
ketika Anda mendapati seseorang yang sedang terhimpit masalah, lantas dia
mengutarakan masalah yang dihadapinya pada Anda, tentu saja hati Anda merasa
terenyuh, empati, dan tergerak menyelesaikan masalah yang menerpanya. Lalu,
dengan sekuat tenaga, kau membantunya keluar dari masalah, bahkan mengubah
kehidupan yang sempit menjadi lapang, sehingga tersungging senyum indah penuh
kebahagiaan darinya. Jika mulanya dia ditindih masalah sehingga terus menangis,
kini masalah itu telah hilang dengan datangnya solusi dari Anda, sehingga
berubah menjadi senyuman. Anda melihatnya tersenyum, tentu saja Anda seperti
dimasuki kebahagiaan yang tak tergambarkan.
Ketika
Anda bersyukur kepada Allah, tentu saja Allah mengaruniakan tambahan -tambahan
kebaikan setelah kebaikan. Bahkan nikmat lahir itu tidak berhenti sebagai
nikmat lahir, tapi bertransformasi sebagai nikmat batin. Kepuasan yang tak
terkatakan. Kalau Anda sedang didera kesedihan, maka berikan apa yang kau punya
pada orang yang membutuhkan, mungkin berupa uang. Dengan kau menyingkirkan
kesedihan yang memasung orang lain, maka kesedihan Anda pun akan tersingkir dan
lenyap dari hati dan berganti menjadi kebahagiaan. Karena Allah menolong
seorang hamba selagi ia menolong saudaranya.
Dari
paparan di atas, kebahagiaan itu mengandung dua. Diraih dari jalur sebagai
hamba dengan selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan dan bisa juga
diperoleh melalui jalur khalifah dengan cara bersyukur pada sesama. Ketika Anda
bisa menjalani keduanya dengan tulus, maka Anda akan lahir sebagai kekasih
Allah -sosok yang memeroleh cinta khusus dari Allah.
0 comments